Rabu, 27 April 2011

Menjadi Penyiar Profesional

Menjamurnya radio radio siaran merupakan buah dari dibukanya kran kebebasan pers di Indonesia. Di satu sisi hal itu bagus karena membuka lapangan kerja sekaligus memberikan alternatif media hiburan dan informasi. Namun di sisi lain bisa juga menjadi bumerang jika tidak dibarengi dengan akselerasi dalam meningkatkan kualitas SDM di berbagai sektor yang terkait.
Radio menjadi media yang bisa masuk ke segala usia, status ekonomi mau pun tingkat pendidikan. Radio adalah satu satunya hiburan yang bisa diakses secara murah, dan langsung merambah ruang ruang pribadi pendengarnya. Orang bisa mendengarkan radio di mana saja. Hampir setiap aktivitas bisa dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan mendengarkan radio. Saya katakan hampir, karena orang yang sedang bikin aransemen musik misalnya, akan buyar konsentrasinya jika dilakukan sambil mendengarkan radio. Tapi sebagian besar lainnya bisa. Orang masak, belajar, nongkrong, bahkan di mobil, bisa sambil mendengarkan radio.
Mengingat aksesibilitasnya yang begitu tinggi, radio bisa menjadi sarana ampuh mencerdaskan bangsa. Itu idealnya. Aspek praktisnya, informasi informasi penting yang bermanfaat bisa lebih cepat menyebar melalui radio, selain iklan sebagai urat nadi kehidupan radio komersial. Namun tentu saja, hal itu harus dibarengi peningkatan kualitas SDM yang bagus, termasuk penyiar sebagai salah satu ujung tombaknya. Jika tidak, maka yang terjadi adalah pembodohan dan penumpulan secara massal.
Adalah sebuah keniscayaan untuk mencetak penyiar penyiar yang handal, cerdas, berwawasan luas, serta memiliki integritas tinggi terhadap bidang yang digelutinya. Semua itu bisa diringkas dalam satu kata: profesional.
Jika Anda ingin menjadi penyiar profesional, tentu harus ada usaha yang dilakukan untuk mencapainya. Profesionalitas membutuhkan kemauan dan kerja keras.
Buku ini ditulis sebagai panduan bagi Anda yang ingin menjadi penyiar yang bukan sekedar ingin dikenal, ngetop, dan sesudah itu HABIS. Tidak masalah apakah Anda sudah lama menjadi penyiar, baru menjadi penyiar, atau bahkan baru sampai bab niat J, buku ini tetap perlu Anda baca, sebagai panduan praktis untuk mencapai kemajuan. Pilihannya hanya dua: menjadi profesional atau tetap amatir. Setuju?
PENYIAR
Apa definisi penyiar? Pada dasarnya, inti dari definisi penyiar sudah jelas dan disepakati secara umum. Penyiar dalam bahasa Inggris disebut announcer atau broadcaster, yakni orang yang yang meyampaikan sesuatu kepada banyak orang. Jadi, sampai di sini, untuk sementara mari kita sepakati bahwa penyiar adalah: orang yang tugasnya menyampaikan sesuatu kepada publik atau pendengar. Untuk penyiar radio, tugasnya adalah menyampaikan sesuatu kepada pendengar radio. Saya ingin menegaskan kata kata pendengar radio, dan bukan pendengar tukang obat, pendengar ceramah, pendengar gossip dll. Kenapa saya katakan demikian? Karena jelas sekali bahwa tugas dan fungsi penyiar sangat berbeda dengan tukang obat, penceramah atau yang lainnya, serta perlu bekal khusus untuk menjalankan tugas dan fungsi tersebut. Hal ini akan kita bahas kemudian secara lebih rinci.
BEKAL UNTUK MENJADI PENYIAR
Dalam melakukan sesuatu, apa pun itu, selalu perlu bekal agar apa yang kita lakukan bisa lebih maksimal. Maksud saya di sini adalah persiapan yang matang sebelum melakukan sesuatu sehingga semuanya bisa berjalan lancar dan hasilnya bagus. Jika kita akan masak sesuatu, pasti kita harus menyiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Kompor, minyak goreng, bahan yang akan dimasak, bumbu, resep masakan, dan yang pasti orang yang akan memasaknya.
Hal yang sama juga diperlukan oleh penyiar ataupun calon penyiar. Banyak hal yang perlu dipersiapkan. Saya akan mencoba menyederhanakan kualifikasi atau persyaratan untuk menjadi seorang penyiar:
Bisa ngomong
Setiap orang, kecuali tuna wicara, pasti bisa ngomong. Tapi maksud saya di sini adalah ngomong sebagai seorang penyiar. Lho, emang ada bedanya ngomong biasa dengan siaran? Jelas beda. Tapi ingat, bukan berarti ngomong pada saat siaran harus terkesan dibuat buat (sering saya temukan pada penyiar penyiar pemula, sehingga orang �pegel� mendengar lafal, intonasi dll yang tidak natural). Bedanya adalah, ngomong biasa tujuannya untuk berkomunikasi dan tidak selalu untuk menyenangkan orang lain (bisa saja kan, kita ngomong untuk mengekspresikan kemarahan, kekesalan kepada orang lain J). Siaran, juga mengkomunikasikan sesuatu, namun penyiar harus SELALU BERUSAHA menyenangkan dan menghibur orang lain.
Cerdas
Orang pinter (maksudnya bukan dukunJ) belum tentu cerdas, tapi orang cerdas pasti pinter. Cerdas adalah berpikir taktis, luwes dan strategis. Ini sangat diperlukan untuk menjadi seorang penyiar. Pada saat siaran, apalagi berinteraksi dengan pendengar, segala kemungkinan bisa terjadi. Untuk menghadapinya diperlukan langkah langkah taktis, strategis dan luwes. Bagaimana menghadapi orang yang ngotot minta lagu, orang yang nggak mau berhenti ngomong on air di telepon, dll. Juga untuk hal hal lainnya.
Memiliki Wawasan Yang Luas
Kenapa wawasan? Siaran bukan hanya baca SMS, request (baca riKWes, bukan riKes), atau sekedar kirim salam dan lagu. Lebih dari itu, penyiar harus berusaha menjadi agent of enlightenment (agen pencerahan). Maksudnya, penyiar harus selalu berusaha agar kata kata yang dia ucapkan bermanfaat bagi pendengar, dan bukan sekedar menghibur. Tapi ingat, posisikan diri Anda sebagai partner atau mitra yang sejajar dengan pendengar. Jangan merasa lebih pintar dari pendengar, tetapi juga jangan sebaliknya. Sejajar, jangan menggurui. Anda pasti bisa membedakan atau merasakan mana yang terkesan menggurui dan mana yang tidak.
Memiliki Rasa Seni dan Rasa Humor Yang Tinggi
Anda mungkin bertanya, kenapa demikian? Jawabannya, siaran adalah seni, karena siaran itu sesungguhnya merupakan sebuah proses berkesenian (ini saya yang berteori). Siaran menggabungkan seni berbicara, seni memilih kata, seni memilih lagu, seni merangkai lagu, seni mempengaruhi orang lain dan seni seni lainnya. Rasa humor juga berperan penting untuk menjaga agar siaran tidak kering dan membosankan. Tapi tolong hati hati: jangan mengungkapkan humor yang jorok, vulgar dan slapstick, mempermainkan cacat fisik, menyinggung SARA dll. Alih alih meningkatkan citra penyiar, hal itu malah akan berakibat buruk dan merendahkan kredibilitas penyiar yang bersangkutan serta radio tempat dia siaran.
Sebagai sebuah seni, siaran secara prinsip tidak bisa dinilai dengan angka, karena siaran bukan ilmu eksakta. Tidak ada jaminan bahwa jika siarannya begini, lagunya begini, maka pendengarnya akan begitu. Meski demikian, ada parameter yang bisa dijadikan ukuran meski �lagi lagi bukan berbentuk angka. Siaran yang baik, adalah siaran yang bisa menghibur, sekaligus juga menambah wawasan pendengar.
Pada saat seseorang mendengarkan siaran radio, yang terpengaruh langsung adalah otak dan pikirannya, sementara indera lainnya bisa melakukan fungsi masing masing untuk kegiatan lain. Orang bisa masak sambil mendengarkan radio dengan tetap berkonsentrasi baik terhadap apa yang dia dengar di radio, mau pun terhadap masakannya. Ini yang tidak bisa dilakukan orang sambil nonton TV, karena pasti ada satu konsentrasi yang harus dikorbankan, apakah acara TV atau masakan. Karena itu siaran radio sering diibaratkan sebagai theater of mind, sebuah pertunjukan teater dalam pikiran pendengar. Kalau siarannya bagus, maka bagus pula pertunjukkan yang �dipertontonkan� dalam ruang pikiran pendengar. Sebaliknya jika siarannya jelek, maka jelek pula pertunjukkan drama di pikiran penonton. Akibatnya? Penonton bubar
Siap Menghibur
Melawak? Bukaaann.. Menghibur di sini maksudnya membuat pendengar merasa senang dan nyaman mendengarkan siaran kita. Melawak adalah bagian dari menghibur dan bukan satu satunya cara untuk menghibur. Bagaimana cara membuat pendengar merasa senang dan nyaman? Ada banyak cara, diantaranya:
a. Pronunciation/ lafal yang jelas dan jernih
Jangan bikin kesal pendengar dengan lafal seperti orang kumur kumur, sehingga orang harus memusatkan konsentrasi untuk memahami ucapan kita. Radio adalah media paling fleksibel di mana orang masih bisa melakukan pekerjaan lain sambil mendengarkan radio, tanpa harus memecah konsentrasi.
b. Diksi atau pilihan kata yang tepat dan variatif
Tepat, maksudnya sesuaikan dengan segmen pendengar dari acara yang Anda bawakan. Contoh, jangan terlalu banyak menggunakan istilah istilah asing jika Anda membawakan acara siaran pedesaan. Jangan gunakan bahasa Indonesia baku, jika segmen pendengar Anda adalah ABG. Ini adalah contoh contoh yang ekstrim, sekedar untuk memperjelas. Kalau itu dilakukan, dijamin, Anda akan ditinggalkan.
Variatif maksudnya tidak monoton. Adakalanya tanpa kita sadari, kita sering mengulang ulang kata tertentu terlalu banyak. Kata oke, biasanya ada di urutan pertama, disusul kata baik. Bukan tidak boleh, tetapi jangan terlalu sering, apalagi jika kata kata tersebut kita ucapkan setiap kita kehabisan kata kata. Pendengar pasti BOSAN.
c. Memilih dan merangkai lagu
Dulu orang siaran ditemani operator yang membantu memilih, menyusun dan memutar lagu. Sekarang, seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi, penyiar dituntut untuk self operating pada saat siaran. Jadi, penyiar juga dituntut untuk memiliki kemampuan memilih dan merangkai lagu dengan lagu, serta lagu dengan kata kata yang diucapkannya, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Antara satu lagu dengan lagu yang lain tidak boleh terkesan taringgul (Sundanese pisan nya) atau njomplang (ini too Javanese). Maksudnya turun naik flow lagu tidak boleh terlalu tajam. Misalnya, setelah lagu Metallica (rock) langsung disusul Julio Iglesias (pop cintaJ). Ini nggak nyambung, dan merusak keutuhan kesan dari sebuah acara. Antara lagu dengan lagu lainnya harus smooth atau halus perpindahannya.
Selalu Mau Belajar
Di dunia ini tidak ada yang statis. Semua dinamis dan berkembang dari waktu ke waktu. Untuk menjadi penyiar yang baik (tidak perlu hebat, yang penting baik) kita harus selalu mau belajar dan membuka diri terhadap hal hal baru. Penyakit yang membuat orang sulit maju dalam membuka wawasan adalah merasa paling hebat sehingga selalu beranggapan bahwa orang lain lebih rendah dalam semua hal. Mulailah untuk belajar tentang banyak hal dari siapa pun. Ini akan memperluas cakrawala berpikir kita dan bisa menjadi modal yang hebat sebagai penyiar. Penyiar harus tahu tentang banyak hal meskipun serba sedikit, daripada tahu banyak tentang sedikit hal.
Nah, sampai di sini Anda pasti sudah bisa membayangkan bahwa menjadi penyiar seungguhnya bukan pekerjaan mudah, sampingan, tambahan dan sebagainya. Penyiar adalah sebuah profesi lengkap dengan segala atribut dan persyaratannya. Siaran bukan sekedar memilihkan lagu untuk pendengar dan menyampaikan salam antar pendengar. Lebih dari itu, siaran adalah sebuah proses interaksi, baik aktif mau pun pasif, antara penyiar dengan audiens sehingga terjalin hubungan saling menguntungkan. Ingat, posisi penyiar dan pendengar adalah sejajar dan menjadi mitra (partner) satu sama lain).
Penyiar harus memberi manfaat kepada pendengar, baik langsung maupun tidak langsung. Harus ada proses pencerahan yang terjadi, sehingga fungsi radio sebagai media pendidikan dan hiburan bisa berjalan sebagaimana mestinya.
SEPUTAR SIARAN
Siaran sesungguhnya melibatkan banyak pihak, dan bukan hanya penyiar. Ada Produser Siaran, ada Music Director, dll. Namun kita akan membatasi pembahasan kita dengan hal hal yang menyangkut penyiar, agar lebih fokus. Apa saja yang harus dilakukan seorang penyiar dalam hal siaran? Banyak Tapi tidak usah kaget dulu, karena semuanya pasti bisa dilakukan, sepanjang kita punya kemauan. Mari kita sederhanakan masalahnya.
Saya membagi kegiatan seorang penyiar ke dalam empat empat hal, yakni hal yang perlu dilakukan sebelum siaran, pada saat siaran, sesudah siaran, dan di luar siaran. Gampang kan?
a. Sebelum Siaran
Jangan meremehkan siaran hanya karena Anda sudah terbiasa siaran dan merasa sudah menjadi penyiar. Sebelum siaran Anda harus mempersiapkan beberapa hal:
Persiapan fisik
Karena secara fisik (selain otak tentunya) siaran banyak menggunakan mulut, lidah, otot muka serta otot otot bagian kepala lainnya, lakukanlah peregangan dengan melakukan senam muka dan kepala setiap kali Anda mau siaran. Jika Anda pernah ikut sanggar teater, Anda pasti cukup familiar dengan senam seperti ini. Gerakannya bisa Anda ciptakan sendiri, sepanjang tidak membahayakan, sampai Anda merasa nyaman dan �siap tempur� di ruang siaran. Misalnya: gerak gerakan kepala Anda kiri kanan, depan belakang, putar putar. Lakukan hal yang sama untuk mulut, lidah, rahang, pipi dll. Hasilnya, organ organ bicara Anda akan lebih lentur, dan ini membantu Anda untuk berbicara lebih lancar. Untuk bagian tubuh lainnya, lakukan seperlunya. Ingat Anda akan bersiaran, dan bukan lomba marathon.
Jangan Biasakan Terlambat
Terlambat merupakan kebiasaan buruk. Sebaiknya, datanglah minimal 15 menit sebelum siaran dimulai, agar Anda lebih siap menjalankan tugas Anda sebagai penyiar. Paling tidak, suasana psikologis Anda akan lebih �matching� dengan kondisi ruang siaran.
Berbahagialah Anda yang menjadi penyiar saat ini. Teknologi telah sangat banyak menolong Anda dengan segala macam kemudahan. Lagu, iklan, tinggal klik. Beres.
Dulu, kalau mau siaran, minimal 1 jam sebelum siaran harus sudah datang, karena banyak yang harus disiapkan. Memilih lagu di �diskotik� (istilah untuk ruang penyimpanan kaset dan PH), mengisi daftar peminjaman kaset, mengecek kaset, mengepas lagu yang akan diputar, dll.
Persiapan Materi Siaran
Ini juga harus disiapkan. Jangan siaran mengandalkan naluri. Hasilnya tidak akan maksimal, dan format acara jadi tidak terarah. Ini juga akan menyebabkan kita sering kehilangan kata kata pada saat siaran. Paling tidak, siapkan satu topik untuk Anda bahas, dan pelajari betul materi yang akan Anda sampaikan. Bila perlu catat semua itu, sehingga Anda akan lebih siap. Jangan lupa juga menyiapkan lagu sebagai bagian dari tema siaran Anda. Sesuaikan lagu dengan acara, jam siar (pagi, siang, sore malam), panduan siaran, serta tentu saja misi dan visi radio tempat kita siaran.
b. Pada Saat Siaran
1. Awali siaran Anda dengan lagu pembuka. Kalau acara yang Anda bawakan punya spot program, putar sebelum lagu pembuka. Setelah itu baru Anda buka acara, jangan terlalu panjang melainkan seperlunya saja. Jangan lupa sebutkan nama Anda dan acara. Jika acaranya bersifat interaktif dan membuka line telephone, sebutkan juga nomor telepon yang bisa dihubungi.
2. Jaga jarak antara mulut dengan microphone sekitar satu jengkal. Ini juga tidak mutlak, karena dipengaruhi oleh kepekaan dan jenis microphone yang kita gunakan. Yang penting jaga agar semua ucapan kita terdengar jelas dan jernih oleh pendengar. Sebagai patokan, kita bisa mendengar melalui headphone yang kita pakai pada saat siaran. Usahakan agar mulut tidak sejajar dengan microphone untuk menghindari efek pop up atau bunyi letupan pada saat mengucapkan huruf huruf tertentu seperti p, b dll.
3. Gunakan kata kata yang sopan dan ringkas. Pilih kalimat kalimat yang tidak terlalu panjang. Berbicara beda dengan menulis. Pendengar akan sulit menangkap maksud kalimat yang kompleks dan terlalu panjang. Dalam tulisan, jika pembaca kurang memahami kalimat yang panjang, maka dia bisa mengulangi membaca dari awal kalimat dan mencerna kembali sampai dia mengerti maksudnya. Pendengar radio tidak akan bisa memutar ulang ucapan penyiar yang tidak dipahaminya. Padahal, orang mendengarkan dengan maksud memahami sesuatu. Jika itu tidak diperolehnya, maka penyiar akan ditinggalkan.
4. Hindari salah mengucapkan nama, baik itu nama orang apalagi nama radio atau nama brand (merek), termasuk juga judul lagu dan nama penyanyi. Contoh, jangan melafalkan IRGI menjadi IRJI dengan berasumsi bahwa G diucapkan JEE dalam bahasa Inggris. Jangan ucapkan Shania Twain dengan lafal Sunda. Bacalah sesuai kemauan yang punya nama: Shenaye Twein. Ini nama, dan pengucapannya harus tepat. Kalau nama Anda Soni, maukah Anda dipanggil Sonay? Pasti Anda akan keberatan. Jadi, jangan sungkan untuk bertanya tentang pengucapan atau mengeja sesuatu nama. Orang Inggris sendiri tidak malu untuk bertanya: �How do you spell your name?� Itu karena mereka tidak mau salah menyebutkan nama.
5. Berbicara tidak terlalu lama, khususnya jika acara yang dibawakan bukan sebuah talk show atau siaran kata. Bicaralah seperlunya, usahakan tidak lebih dari 5 menit. Ya, ya, ini memang bukan matematika, 5 menit tentu bukan angka mati. Tapi jika lebih dari itu, saya jamin pendengar akan bosan. Selingi dengan lagu yang sudah Anda siapkan. Rangkaikan dengan iklan, PSA, insert dll. Jaga flow lagu agar tetap smooth dan enak didengar.
6. Sebaliknya, juga jangan terlalu lama memutar lagu, dan Anda tidak mau bicara. Sebagai penyiar, tugas Anda adalah berbicara (tapi bukan asal bicara). Jangan tinggalkan pendengar Anda lebih dari tiga lagu, kecuali terpaksa. Jaga agar ada keseimbangan antara musik dan kata sepanjang jam siaran Anda. Pendengar tentu ingin memastikan bahwa ia tidak sedang mendengarkan radio yang sedang siaran percobaan atau bahkan radio gelap.
7. Jangan lupa untuk memutar iklan sesuai jadwal. Ingat pemasang iklan adalah mitra kita. Jangan kecewakan mereka. Penyiar dan acara adalah etalase dari sebuah radio. Jika display nya bagus, orang akan tertarik untuk membeli, atau paling tidak untuk melihat lihat ke dalam. Semakin banyak orang mengunjungi �toko� kita, semakin besar minat pengiklan untuk bekerjasama dengan radio tempat kita bekerja.
8. Untuk format siaran yang mengharuskan kita berinteraksi dengan pendengar (by phone), usahakan agar tidak bertele tele seperti kita ngobrol biasa. Ingat, radio adalah media publik, dan banyak orang yang mendengarkan. Bicaralah dengan ramah, tapi tetap harus ada jarak pada saat on air, sedekat apa pun hubungan kita dengan orang yang menelepon. Batasi juga agar tidak terlalu lama, karena orang lain akan bosan, serta kemungkinan besar ada juga yang antri menunggu giliran menelepon. Mintalah dengan sopan untuk memberi kesempatan kepada yang lain, jika ada penelepon yang terlalu lama berbicara.
9. Untuk acara request lagu Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini:
Meskipun yang diputar adalah permintaan pendengar, namun cara penyajian tetap harus memperhatikan unsur keindahan. Flow lagu harus tetap terjaga, dan tugas penyiar adalah menyusunnya sedemikian rupa sehingga tidak njomplang, taringgul, acakadut dll. Artinya tidak perlu yang telepon saat ini, lagunya diputer saat itu juga.
Usahakan untuk tidak memutar 2 atau lebih lagu dari penyanyi yang sama dalam acara yang sama. Bahkan idealnya hal itu tidak boleh dilakukan pada hari yang sama. Apalagi kalau lagunya itu itu juga, dengan judul yang sama. Ini untuk menjaga agar pendengar tidak bosan, juga agar koleksi lagu kita tidak terkesan sedikit.
Jangan dijajah oleh pendengar. Juga jangan menjajah pendengar. Penyiar dan pendengar adalah mitra yang sejajar. Perlakukan mereka dengan baik, namun tetap menjaga otoritas kita sebagai penjaga gawang sebuah acara. Bila harus menolak permintaan pendengar, lakukan dengan cara yang sopan dan tidak menyinggung. Beri pengertian bahwa radio adalah milik publik dengan aturan tertentu dan menyangkut kepentingan banyak pihak sehingga tidak bisa memaksakan kehendak pribadi.
10. Jangan lupa memutar Station ID alias Station Identity alias Spot Identitas Radio. Ini penting untuk menanamkan brand image sebuah radio di pikiran pendengar. Selai itu, Station ID juga meringankan beban penyiar untuk mengulang ulang mengucapkan identitas radio. Putar Station ID ini secara tepat. Jika Anda punya rasa seni yang cukup bagus, Station ID ini bisa di mix dengan lagu sehingga terdengar indah dan menjalin satu lagu dengan lagu lainnya.
11. Akhiri siaran Anda dengan penutup ringkas. Jangan terlalu panjang, karena semakin panjang ucapan penutup kita, akan semakin sulit untuk mengakhirinya. Jangan lupa juga untuk meminta pendengar mengikuti acara selanjutnya. Akan lebih bagus jika Anda juga menyebutkan acara, dan penyiar yang siaran di jam berikutnya (setelah Anda). Jika ada hal yang menarik, jangan lupa untuk meyampaikannya juga. Contoh: � Pendengar, jangan lupa untuk menyimak perbincangan kami dengan pakar telematika Onno W. Purbo beberapa saat lagi, yang akan dipandu oleh Nina di acara Expert Talks�. Ini akan mengikat pendengar untuk tidak memindahkan channel frekwensi radionya ke radio lain.
12. Siapkan satu atau dua lagu untuk penyiar berikutnya, sekedar jaga jaga siapa tahu penyiar berikutnya datang telat. Lihat acaranya, pilih lagunya sesuai dengan panduan acara yang bersangkutan. Kalau jenis lagu acara Anda dengan acara berikutnya sangat jauh berbeda (misal: jazz, dan acara berikutnya dangdut), selingi beberapa saat dengan Station ID, PSA (iklan layanan Masyarakat), spot promo acara dll. Buatlah semulus mungkin agar pendengar tidak merasa janggal mendengarnya.
c. Sesudah Siaran
Jangan meninggalkan ruang siaran dalam keadaan berantakan. Jaga agar ruang siaran menjadi tempat yang menyenangkan untuk kita mau pun penyiar yang lain. Pastikan komputer dan peralatan siaran lainnya berfungsi dengan baik setelah kita pakai, sehingga penyiar berikutnya tidak akan menemui kesulitan menjalankan tugasnya. Jangan lupa mengisi absen (jika Anda part timer) karena itu akan berpengaruh terhadap perhitungan wages (bayaran Anda). Log iklan juga harus diisi, untuk laporan ke pengiklan
d. Di Luar Siaran
Di luar siaran di sini maksudnya adalah Anda sebagai pribadi di luar jam siaran. Terlepas dari apakah Anda seorang penyiar part timer (dibayar hanya untuk siaran) atau pun penyiar full timer (dibayar sebagai karyawan sebuah radio), Anda tetap memiliki kewajiban untuk menjaga citra profesi Anda sebagai penyiar dan citra lembaga penyiaran tempat Anda bekerja. Ini juga berlaku di luar jam kerja Anda. Sebagai panduan, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan:
1. Be profesional
Kalau Anda serius ingin menjadi penyiar, bersikaplah profesional. Saya ingin mengingatkan bahwa profesi adalah pekerjaan di mana Anda mendapatkan imbalan atas kemampuan yang Anda miliki di bidang tertentu dan Anda bekerja dengan menggunakan kemampuan Anda tersebut. Seorang profesional tidak pernah berhenti belajar dan berusaha terus untuk meningkatkan kemampuannya secara maksimal.
Selain itu perhatikan juga hal hal berikut:
Anda bekerja sebagai penyiar dan dibayar oleh perusahaan tempat Anda bekerja. Patuhi aturan yang sudah disepakati dan jalankan sebagaimana mestinya.
Jangan pernah meminta sesuatu dari pendengar, jangan terkesan mengharap diberi sesuatu oleh pendengar, karena itu akan menurunkan citra dan wibawa Anda sebagai penyiar. Terimalah kalau orang memberi karena itu rezeki, tapi jangan pernah meminta.
Banyak banyaklah membaca karena hal itu akan meningkatkan wawasan dan kemampuan Anda bersiaran. Ingat, tugas penyiar bukan sekedar membacakan request dari pendengar. Lebih dari itu, tugas penyiar adalah menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi pendengar, lebih jauhnya lagi memberikan pencerahan kepada pendengar.
2. Jaga Sikap Anda
Jaga sikap bukan berarti Anda harus Jaim (jaga image) dalam pengertian ABG. Jaga sikap di sini maksudnya Anda harus lebih berhati hati bersikap karena penyiar adalah public figure dalam scope yang lebih kecil (public figure kecil kecilan J). Itu adalah sebuah resiko dengan segala konsekuensinya. Anda diperhatikan lebih banyak orang dan pada saat yang sama Anda mewakili pribadi sekaligus mewakili institusi radio tempat Anda bekerja. Anda bukan lagi pribadi yang sepenuhnya bebas bersikap karena sebagian dari diri Anda adalah milik publik, dalam hal ini pendengar Anda. Jadi, hati hati, karena saat ini Anda adalah seorang professional sekaligus public figureJ. Hindari hal hal yang bisa mengundang citra negatif, atau Anda akan kehilangan pamor sebagai penyiar profesional. Pilihannya hanya dua, amatir atau professional.
Mau yang mana?
Selamat berkarya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar